
Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, M.M., saat memberikan keterangan kepada awak media didampingi Kepala Bakesbangpol Kota Malang (Foto : Fitri AdaDiMalang)
CANTIKDANBUGAR.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Malang bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dinamika dan gejala sosial di masyarakat, salah satunya isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Antisipasi ini dinilai krusial mengingat kedudukan Kota Malang sebagai kota pendidikan dan destinasi yang dihuni banyak mahasiswa dari berbagai daerah.
Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, M.M., menegaskan bahwa Pemkot Malang perlu mengantisipasi seluruh potensi permasalahan kemasyarakatan sejak dini. Penanganan isu sosial ini mencakup kritik media sosial, tata ruang, hingga persoalan perilaku di tengah masyarakat.
“Ya, salah satunya LGBT, banyak ya. Karena Kota Malang ini kota pendidikan, kita perlu antisipasi semua gejala-gejala sosial, permasalahan-permasalahan kemasyarakatan, serta juga mungkin terkait kritik-kritik, media sosial, dan lain-lain,” ujar Wahyu.
Wahyu menekankan pentingnya peran Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang dalam mengamati situasi di lapangan. Informasi serta masukan dari Bakesbangpol akan menjadi pijakan bagi jajaran Forkopimda untuk merumuskan kebijakan maupun tindakan yang tepat.
“Nah, ini harus diwaspadai oleh Kesbangpol untuk bisa memberikan masukan, dan nanti bentuk sinergitas ini akan menjadi bahan juga kami dari Forkopimda untuk bisa melakukan sesuatu tindakan-tindakan ataupun kebijakan-kebijakan,” tegasnya.
Guna menjaga stabilitas sosial di tengah tingginya keberagaman mahasiswa asal luar daerah, Pemkot Malang juga mengoptimalkan peran Forum Pembauran Kebangsaan (FPK). Forum ini menjadi wadah komunikasi untuk mempererat kerukunan antarsuku dan ras di Kota Pendidikan tersebut.
“Sinergitas ini kan apalagi kita sudah punya FPK, Forum Pembauran Kebangsaan. Itu menyinergikan antar suku, ras, ya, kerukunan di Kota Malang,” tambah Wahyu.
Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Kota Malang, Noer Rahman Widjaya, mengungkapkan bahwa keberadaan fenomena LGBT kini menjadi perhatian serius Pemkot Malang. Menurutnya, aktivitas kelompok tersebut mulai memanfaatkan tempat publik hingga pusat perbelanjaan sebagai sarana berkumpul.
“Perkembangan saat ini memang menjadi sorotan khususnya Pemkot Malang beserta dengan programnya adalah LGBT. Bahkan ada beberapa tempat di mall itu menjadikan satu sarana untuk ketemunya sehingga ini sedikit meresahkan khususnya kita Kota Malang di mana Kota Malang ini juga merupakan kota destinasi dan kota pelajar,” kata Rahman.
Terkait pengawasan di lingkungan rumah kos dan kampus, Rahman menilai penanganan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemilik kos atau pihak akademisi. Pasalnya, fenomena ini berkaitan erat dengan persoalan perilaku individu yang harus diselesaikan dari akarnya.
“Kalau kita mau sampaikan ini kepada pemilik kos-kosan dan sebagainya, tentunya kita harus berawal dari akarnya dulu. Perbaiki terkait dengan harkat, martabat, sehingga bentuk-bentuk perilaku penyelewengan semacam ini bisa kita minimalisasi. Kalau kita bebankan kepada pemilik kos-kosan, kampus, ya sangat susah, karena ini kan masalah perilaku,” jelasnya.
Ia menambahkan, upaya penanganan tidak dilakukan dengan cara memutus rantai secara drastis, melainkan melalui pemberian pemahaman dan edukasi secara masif. Bakesbangpol Kota Malang saat ini sedang menyiapkan bahan dan kajian khusus yang akan diserahkan kepada jajaran Forkopimda sebagai dasar pengambilan langkah strategis berikutnya.
“Yang ada adalah memberikan wawasan dan bentuk-bentuk pemahaman terkait dengan penyelewengan perilaku ini. Nanti ada bahan yang memang kita siapkan khusus untuk bapak-bapak Forkopimda ini. Mudah-mudahan setelah itu nanti akan ada tindak lanjutnya terkait dengan menyikapi perilaku-perilaku penyelewengan yang saat ini marak terjadi di Kota Malang,” pungkas Rahman. (*)
0 Komentar