![]() |
| Para pengunjung Car Free Day (CFD) di kota Malang tertarik mengetahui produk lilin aroma terapi buatan ACA Theraphys mahasiswa STIE Malangkuçeçwara (Foto : Agus Yuwono) |
Inovasi tersebut dikembangkan tim ACA Theraphys STIE Malangkuçeçwara, dimana selain menghasilkan produk yang dapat dipasarkan, pemanfaatan minyak jelantah tersebut juga diarahkan untuk mengurangi potensi pencemaran lingkungan.
Ditemui saat memperkenalkan dan menjual produknya di area car Free Day (CFD) kota Malang, CEO Tim ACA Theraphys yakni Cicin Sofiana mengatakan timnya mengumpulkan minyak jelantah dari rumah tangga maupun pelaku UMKM untuk kemudian diolah menjadi lilin aroma terapi.
“Kita melihat di lingkungan sekitar kita itu banyak sekali limbah minyak jelantah yang bisa mencemari lingkungan karena masyarakat itu belum mengetahui cara untuk mengolahnya. Oleh karena itu kemudian kita mengolahnya menjadi produk yang lebih bernilai ekonomi dan menjaga lingkungan dari limbah minyak goreng bekas atau jelantah itu,” ungkap Cicin.

Pengembangan produk tersebut tidak dilakukan secara instan. Tim ACA Theraphys lebih dulu melakukan riset dan pengembangan untuk menemukan komposisi yang sesuai agar minyak jelantah dapat diolah menjadi lilin aroma terapi.
“Setelah melalui sejumlah percobaan, akhirnya tim kami berhasil menemukan komposisi atau formula yang tepat untuk menghasilkan produk aroma terapi dengan varian destinasi wisata di Malang Raya dan sekitarnya seperti Balekambang, Sendang Biru, Bromo, Tumpak Sewu dan Coban Rondo, hingga Topeng Malangan,” jelas Cicin.
Lolos pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Direktorat Belmawa, Ditjen Diktiristek, KemendiktiSaintek, tim ACA Theraphys mendapatkan dana sekitar Rp9,7 juta yang kemudian dimanfaatkan untuk pengembangan dan produksi lilin aroma terapi berbahan minyak jelantah.
Tidak berhenti pada produksi, tim ACA Theraphys juga membawa inovasi tersebut ke masyarakat dengan berkolaborasi bersama ibu-ibu PKK untuk memberikan edukasi sekaligus pelatihan mengenai cara mengolah minyak goreng bekas menjadi produk lilin aroma terapi.
“Selain itu kita juga berkolaborasi dengan Ibu PKK untuk mengedukasi dan memberikan pelatihan cara untuk memanfaatkan limbah minyak goreng tersebut menjadi lilin aroma terapi seperti yang kita buat ini,” ujar Cicin.
Dalam proses pengembangan produknya, Cicin mengakui tim harus melakukan sejumlah percobaan. Minyak jelantah yang dikumpulkan tidak langsung dapat digunakan sebagai bahan produk tanpa melalui proses riset dan pengolahan.
“Jadi setelah mendapatkan minyak goreng bekas, kita kemudian melakukan riset and development (RnD) dimana kita banyak melakukan percobaan-percobaan hingga berhasil menemukan komposisi atau formula yang pas menurut kita untuk menjadi produk yang saat ini kita produksi saat ini,” ungkap perempuan berhijab ini.
Dalam pembuatan dan ppengembangan produk lilin aroma terapi ACA Theraphys ini Cicin juga dibantu anggota tim lainnya antara lain Navida Kirana sebagai CHRO, Nessyah Ayu Syahputri sebagai CFO, Yunita Amaliani sebagai CMO dan Anggun Nurmala sebagai CPO. Tim tersebut dibina Ir. Dwinita Aryani, MM., Ph.D., sebagai dosen pendamping, dan Rina Irawati, S.E., M.M., CDM., CMS., sebagai kordinator P2MW STIE Malangkuçeçwara.
Bagi ACA Theraphys, pengolahan minyak jelantah bukan hanya berkaitan dengan menghasilkan produk yang dapat dijual. Edukasi kepada masyarakat menjadi bagian lain dari tujuan mereka agar minyak goreng bekas yang selama ini berpotensi menjadi limbah dapat dimanfaatkan kembali. Dengan keterampilan yang diberikan melalui pelatihan, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan sendiri pengolahan minyak jelantah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
“Selain itu juga sebagai upaya menjaga lingkungan kita dari pencemaran minyak goreng bekas sehingga lingkungannya tetap sehat dan nyaman untuk ditinggali,” pungkas Cicin. (*)

0 Komentar