Bedah Buku “Dari Rimba Menjadi Kota”, Peran Bank Indonesia dalam Evolusi Malang Diulas

CANTIKDANBUGAR.COM — Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang bekerja sama dengan Bank Indonesia menggelar acara Pekan Literasi yang diisi dengan agenda bedah buku bertajuk Dari Rimba Menjadi Kota Bank Indonesia Dalam Evolusi Malang Raya. Kegiatan ini menghadirkan ruang diskusi bagi masyarakat, penulis, serta pencinta literasi untuk mengupas sejarah ekonomi lokal.

Buku yang ditulis oleh Dr. R. Reza Hudiyanto, S.S., M.Hum. ini dinilai penting untuk dibedah karena memuat banyak informasi primer dari arsip resmi Bank Indonesia. Koordinator Gerakan Literasi Balaikota Menulis, R. Agung Harjaya Buana, S.E., M.S.E., mengungkapkan bahwa arsip-arsip dari Malang maupun Jakarta tersebut memperkaya referensi penulisan sejarah.

“Ini juga sebagai informasi bahwa di buku ini banyak muncul informasi-informasi primer yang berasal dari arsip-arsip Bank Indonesia yang ada di Malang maupun arsip-arsip dari Bank Indonesia yang ada di Jakarta,” ujarnya.

Ia memaparkan bahwa buku setebal tujuh bab ini mengulas berbagai fase penting, termasuk dinamika ekonomi pada masa pendudukan Jepang yang jarang diulas. Selain itu, buku ini menyoroti fungsi perbankan sebagai perantara (intermediary) perekonomian masyarakat.

“Bagaimana perekonomian masa Jepang itu belum banyak diulas, namun di buku ini dimunculkan informasi-informasi mengenai bagaimana perekonomian Malang pada masa pendudukan tersebut,” ungkap Agung.

Aspek menarik lainnya mencakup peran historis De Javasche Bank dalam pembiayaan sektor perkebunan, seperti pabrik gula Kebon Agung dan ekspansi tebu dari Blimbing hingga Jombang. Buku ini juga mengulas dinamika sistem mata uang dan kebijakan ekonomi masa lalu sebagai cerminan bagi stabilitas ekonomi makro.

“Maka sekarang seperti kita tahu, Indonesia menggunakan rezim floating exchange rate, bagaimana nilai uang itu ditentukan oleh keseimbangan antara permintaan dan suplai-nya,” pungkas Agung terkait pelajaran kebijakan moneter dalam buku tersebut.

Tim penulis buku, Dr. R. Reza Hudiyanto, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa buku tersebut memotret perkembangan perekonomian Malang pada rentang tahun 1920 hingga 1960. Peran lembaga perbankan seperti De Javasche Bank (DJB) yang bertransformasi menjadi Bank Indonesia menjadi penggerak utama ekonomi regional.

“Kita ingin memberikan satu gambaran bagaimana De Javasche Bank dan selanjutnya menjadi Bank Indonesia ini salah satu bukti kunci ya dalam mengakselerator perkembangan perekonomian kawasan Malang, bukan hanya kota,” jelas Reza.

Reza menambahkan bahwa istilah “akselerator” digunakan karena potensi ekonomi di Malang sebenarnya telah tumbuh sebelum kantor cabang DJB berdiri, di mana kehadiran bank berfungsi mempercepat ekspansi tersebut. Proses penyusunan buku ini sendiri memakan waktu sekitar tujuh bulan dengan dukungan riset terdahulu yang telah dilakukan penulis.

Nahwa proses penyusunan buku tersebut memakan waktu sekitar tujuh bulan, mulai dari, dengan dukungan riset-riset sejarah Malang yang telah ia lakukan sebelumnya. Ia berharap kegiatan bedah buku ini dapat membangkitkan minat baca masyarakat terhadap sejarah ekonomi lokal.

“Harapannya ini bisa memicu atau membangkitkan satu minat, pertama minat membaca, terutama sejarah ekonomi lokal di kawasan Malang,” tambah Reza.

Melalui penyelenggaraan Pekan Literasi ini, Pemkot Malang dan Bank Indonesia berharap generasi muda dapat terdorong untuk aktif melakukan penulisan sejarah lokal. Dengan demikian, potensi sejarah baik dari aspek ekonomi maupun sosial di tingkat lokal dapat tergali dan dimaksimalkan secara luas. (*) 

Posting Komentar

0 Komentar

MEDIA ONLINE YANG MENYAJIKAN INFORMASI SEPUTAR WANITA YANG MENGINSIPRASI SUPAYA MEMILIKI ENERGI YANG POSITIF